Dibekali Tanaman Ketahanan Pangan, Rektor UMM Berangkatkan Lebih dari 3.000 Mahasiswa KKN Berdampak

Lebih dari 3.000 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi dilepas untuk menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak, 21 Juli ini. Mereka akan melangsungkan berbagai program di berbagai wilayah, paling tidak di 12 provinsi dan 53 kota kabupaten. Dari Sumatera hingga Papua. Menariknya, pelepasan KKN Berdampak itu dibuka dengan melepaskan burung-burung merpati, penyerahan tanaman sayur dan buah, hingga color run. Pelepasan burung merpati menjadi simbol dan semangat UMM untuk menjaga lingkungan dan kelestarian bumi. Sementara berbagai tanaman sayur dan buah menjadi cara UMM mendukung program ketahanan pangan. Mahasiswa akan membawa ribuan tanaman itu ke daerah-daerah dan desa serta mendorong masyarakat untuk mampu mewujudkan ketahanan pangan Indonesia. Program yang diadakan juga akan fokus mengawal dan menciptakan atmosfer ketahanan pangan di desa lokasi KKN Berdampak di mana mahasiswa UMM ditugaskan. Terkait hal ini, Kepala LPPM UMM, Prof. Dr. Ir. Sutawi, M.P., menyampaikan bahwa UMM melepas 3.010 mahasiswa untuk melaksanakan KKN berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, juga ada mahasiswa yang akan diberangkatkan khusus ke Riau minggu depan dalam program KKN Muhammadiyah dan Aisyiyah (KKN MAS). Untuk luar Jawa mereka akan dikirim ke Badung, Bima, Dompu, Lombok Timur, Lombok Barat, Makassar, Tanah Bumbu, Kalimantan, Tabanan, Sikka, Ternate, Maluku dan lainnya. Sementara di Jawa mereka akan dikirim ke Magetan, Blitar, Bangkalan, Situbondo, Pasuruan, probolinggo, Serang, Rembang, Nganjuk, dan puluhan lainnya. Adapun tahun ini, UMM memilih tema ketahanan pangan sebagai fokus utama, yang selaras dengan agenda prioritas nasional. “KKN kali ini mengusung tema ‘Ketahanan Pangan’. Oleh karena itu, setiap mahasiswa diwajibkan membawa bibit tanaman sayuran dan buah dalam sistem multikultur. Harapannya, ini bisa jadi langkah konkret untuk memperkuat ketahanan pangan lokal,” ujar Sutawi. Namun, lebih dari sekadar menanam bibit, UMM juga menekankan bahwa mahasiswa harus mampu membaca kondisi sosial di wilayah penempatan dan memberikan solusi berbasis ilmu pengetahuan. Dengan menggandeng mitra strategis seperti ATRBPN dan BPS, mahasiswa ditantang untuk memahami langsung persoalan tata ruang, data sosial ekonomi, dan dinamika kebijakan yang berlangsung di masyarakat. Maka dari itu, rektor UMM, Prof. Nazaruddin Malik, M.Si. menegaskan pentingnya mahasiswa hadir sebagai agen transformasi, bukan sekadar pelaksana formalitas program. “Sejak dulu, KKN adalah misi mulia. Tapi tantangannya hari ini berbeda. Mahasiswa harus mampu mengenali masalah dengan cara ilmiah dan lintas disiplin. Mereka harus jadi ‘pabrik solusi’, bukan pencipta masalah baru,” tegas Nazar. Dalam konteks itu, kerja sama dengan lembaga bukan hanya simbolis. Ini diarahkan agar mahasiswa dapat melihat langsung tantangan kebijakan di lapangan—misalnya bagaimana masalah pertanahan menghambat ketahanan pangan, atau bagaimana data yang lemah menyebabkan program bantuan pangan tidak tepat sasaran. Egita Dilafebrianti, mahasiswa Teknologi Pangan 2023 yang akan melaksanakan KKN di Desa Karangsono, Pasuruan, menyambut positif tema ini. Ia menilai relevansi ketahanan pangan sangat kuat, apalagi sejalan dengan program Presiden Prabowo Subianto yang mendorong kemandirian pangan desa. “Kami sudah menyiapkan workshop keamanan pangan, pendampingan izin usaha UMKM, serta pembuatan olahan bergizi untuk balita melalui Posyandu. Tapi kami juga sadar, pelaksanaannya tidak mudah. Diperlukan komunikasi aktif dengan warga dan dukungan dari pihak desa,” ujarnya. Berangkat dari tantangan tersebut, KKN UMM tahun ini bukan hanya proyek tahunan kampus. Ia menjadi bagian dari eksperimen sosial besar dan sejauh mana perguruan tinggi mampu mempertemukan teori dan realitas, serta menghadirkan mahasiswa sebagai aktor perubahan nyata dalam masyarakat. (vin/wil)
Mahasiswa UMM Bikin Tiga Inovasi untuk Jaga Lingkungan

Desa Kayu Kebek, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, menjadi lokasi kontribusi mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun kegiatan itu merupakan bagian dari praktikum politik lingkungan yang terlaksana selama tiga bulan. Menariknya, pada 2 Juni lalu, terlaksana pameran inovasi dan penandatanganan kerjasama antara UMM, pihak desa, dan pemerintah Kabupaten Pasuruan. Implementasi mahasiswa UMM tersebut fokus pada inovasi pengelolaan limbah dan penguatan ekonomi lokal. Selain itu juga memperkenalkan tiga inovasi menarik yakni teknologi Smokeless Burn Barrel, yakni alat pembakaran sampah tanpa asap, produksi eco-enzymedari limbah apel, serta pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah. Inovasi tersebut dirancang untuk mengurangi polusi lingkungan sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi warga desa. Stand pameran yang menampilkan hasil karya dan inovasi mahasiswa bersama warga itu mendapat perhatian khusus dari para tamu. Asisten II Bupati Pasuruan, Bakti Jati Permana, yang hadir mewakili Bupati, menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi antara UMM dan Desa Kayu Kebek. Menurutnya, mahasiswa UMM telah membantu pemerintah dan masyarakat desa dalam mengelola limbah menjadi produk yang bernilai ekonomi. Ini adalah langkah penting dalam mempersiapkan desa menuju desa wisata lingkungan. Sebagai bentuk komitmen jangka panjang, dilakukan penandatanganan prasasti pendopo sebagai simbol dimulainya kerja sama berkelanjutan antara UMM dan Desa Kayu Kebek. Pemerintah daerah menyambut baik pengembangan potensi desa melalui kolaborasi lintas sektor, khususnya dengan perguruan tinggi. “Inovasi yang dilakukan mahasiswa UMM sangat relevan dengan kebutuhan desa. Pemerintah daerah mendukung penuh upaya ini,” tambahnya. Sementara itu, Kabiro Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama UMM Dr. Salahudin, M.Si., M.P.A., menegaskan bahwa praktikum ini tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga kontribusi nyata mahasiswa kepada masyarakat. “Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga memberikan solusi yang aplikatif. Praktikum ini adalah langkah konkret menuju pengembangan desa wisata berbasis lingkungan,” ujarnya. Adapun kegiatan ini merupakan bagian dari program akademik semester enam yang telah berjalan selama satu setengah bulan dan kini diakui secara resmi sebagai pengganti skripsi, setelah mendapat pengesahan. Sebagai bentuk apresiasi, piagam penghargaan diserahkan kepada para mahasiswa atas kontribusi mereka dalam pengembangan desa. (vin/wil)
UMM Teken MoU dengan HKTI bersama Gubernur Khofifah

Langkah strategis dilakukan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan meneken kerjasama bersama Dewan Pengurus Daerah (DPD) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Timur, 24 Juli ini. Adapun penandatanganan memorandum of understanding (MoU) dilakukan langsung di kantor Gubernur Jawa Timur (Jatim). Kolaborasi ini dilakukan bertepatan dengan pelantikan DPC HKTI kabupaten dan kota se-Jatim. Turut hadir Gubernur Jatim sekaligus Dewan Pembina DPD HKTI Khofifah Indar Parawansa dalam prosesi tersebut. Terkait kerjasama ini, Ketua HKTI Jatim Arum Sabil mengatakan, ini merupakan tindak lanjut dari konsorsium perguruan tinggi yang memang berupaya membantu persoalan daerah tentang pertanian. Begitupun dengan edukasi bidang pertanian yang juga menjadi bagian dari solusi ketahanan pangan, penanganan kemiskinan ekstrem, dan stunting. “HKTI Jatim dan UMM tentu bersama-sama memberikan beragam solusi dan penyelesaian atas masalah-masalah yang ada. Khususnya kerjasama kami yang ada di bidang sains dan teknologi dalam pertanian,” katanya. Di sisi lain, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si. mengatakan, pihaknya berharap bisa turut mengembangkan teknologi pertanian bersama HKTI. Inovasi UMM di bdiang sains dan teknologi bisa diterapkan pada para petani di Jawa Timur. Tidak hanya mendampingi di awal dan akhir saja, tapi juga mendampingi dengan berbagai penemuan dan teknologi. “Salah satunya inovasi Biofarm karya dosen UMM dan pertanian oragnik yang tidak mencemari lingkungan dan tanah. Kerja keras tim dosen UMM ini sudah terbukti dan teruji di berbagai wilayah. Seperti di Bondowoso, Situbondo, Lumajang, bahkan Bali. Hasil produksi di lokasi tersebut meningkat dan juga tidak mencemari lingkungan,” katanya. Nazar melanjutkan, ini juga sekaligus mengawal program ketahanan pangan Indonesia. Kampus Putih berkomitmen untuk menjalankan hal serupa, termasuk langkah konkret untuk berkolaborasi dan menggandeng asosiasi dan perhimpunan bidang pertanian. Dengan begitu, UMM bisa menjadi kampus yang benar-benar berdampak bagi masyarakat. Nazar juga menegaskan bahwa pihaknya terus berkomitmen untuk dekat dan memahami masyarakat, khususnya dalam bidang pertanian. “Harapannya, kami dapat belajar sekaligus mengembangkan teknologi maupun mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada di tahap pengelolaan lahan, pembenihan, hingga produk hilirisasi,” katanya. Hal serupa juga disampaikan Khofifah Indar Parawansa. Ia mengatakan bahwa HKTI memajukan sektor pertanian di Jawa Timur. Mengambil peran penting dalam menyukseskan kedaulatan pangan yang jadi salah satu program pemerintah. Ia juga berterimakasih kepada UMM yang senantiasa memberikan dukungan HKTI Jawa Timur melalui kerjasama HKTI berupa Memorandum of Understanding (MoU). (*/wil)
UMM Jadi Rujukan Bappenas untuk Inovasi Perguruan Tinggi

Dianggap sebagai kampus inovatif dan berdampak luas bagi masyarakat, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terima kunjungan dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI, 1 Agustus 2025 lalu. Agenda Sharing Session itu membahas kontribusi nyata UMM dalam isu-isu strategis nasional, seperti stuting, kesehatan dan gizi masyarakat, pendidikan inklusif, hingga penguatan program Pendidikan Profesi Guru (PPG) UMM. Diskusi hangat ini menyoroti bagaimana UMM melalui KKN Tematik dan Program LPPM telah menyasar langsung kebutuhan masyarakat, seperti pemenuhan gizi ibu hamil dan balita sebagai upaya konkret penurunan stunting. Lebih lanjut, Hanifa Umi Haryati salah seorang Planner Bappenas menilai bahwa pendekatan UMM sejalan dengan arah Rencana Kerja Pemerinta (RKP) 2026, yang menekankan pembangunan manusia seutuhnya menuju Indonesia Emas 2045. Pendidikan inklusif dan kesehatan masyarakat menjadi prioritas nasional, dan UMM dinilai telah menunjukkan aksi nyata melalui riset, inovasi teknologi lokal, hingga pemberdayaan desa. Tak hanya itu, peran aktif UMM sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dalam mengelola program PPG juga menjadi sorotan. “Termasuk di dalamnya, kami ingin lebih mengetahui bagaimana kampus mengembangkan kurikulum, evaluasi pembelajaran, serta menyiapkan guru berkualitas untuk generasi masa depan,” ujar Hanifa melanjutkan. Menjawab hal ini, Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, MP., IPU., Direktur Direktorat Saintek UMM menyampaikan bahwa UMM melalui Direktorat Saintek terus mengoptimalkan pemanfaatan hasil riset, khususnya di bidang kesehatan, gizi, dan ketahanan pangan. Direktorat ini telah menghimpun berbagai penelitian, termasuk yang berkaitan dengan stunting, baik dari dosen maupun mahasiswa. Kemudian, melalui program unggulan seperti Profesor Penggerak Pembangunan Masyarakat (P3M), UMM aktif mengembangkan inovasi. Salah satunya beras analog tinggi zat besi (fe) sebagai solusi nyata di masyarakat. Masih mengenai isu stunting, UMM juga dipercaya turut serta dalam konsorsium perguruan tinggi terkait pengentasan stunting di NTT bersama Kementerian Diktisaintek RI. Ini menjadi salah satu contoh sinergi UMM dengan kementerian dan pemerintah daerah. Selain hasil riset, UMM juga mendorong penguatan literasi gizi, pertanian, dan produktivitas ekonomi masyarakat demi menurunkan stunting dan kemiskinan secara berkelanjutan. “Stunting adalah isu kompleks. Tak hanya soal gizi, tapi juga lingkungan, ekonomi, dan literasi,” ujarnya. Sementara itu, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UMM Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M., menegaskan komitmen UMM dalam menyelenggarakan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang unggul dan berstandar internsional. Menariknya, sejak 2007, UMM sudah aktif melaksanakan sertifikasi guru. Hingga saat ini, baik PPG Dalam Jabatan maupun Prajabatan menerapkan sistem pembelajaran blended dan kurikulum khas seperti AIK dan Mata Kuliah Manajemen Produksi Media Pembelajaran Digital sebagai mata kuliah elektif. Tak hanya itu, UMM juga tengah menjalin kerja sama internasional, seperti universitas di Australia, Rusia, Taiwan, Spanyol, dan lainnya. Bahkan, pada Oktober 2025 mendatang, UMM akan terlibat langsung dalam program konsorsium pendidikan Indonesia-Australia di Manado yang didukung Kedutaan Australia. Di sisi lain, Dr. Salahudin, S.IP., M.Si., M.P.A., Kepala Biro Riset, Pengabdian, dan Kerjasama Bidang VI UMM, menegaskan pentingnya sinergi antara UMM dan kementerian strategis seperti Bappenas dalam mendukung percepatan pembangunan nasional. Menurutnya, UMM telah merancang berbagai program yang berdampak langsung pada masyarakat melalui riset dan pengabdian masyarakat baik dari tingkat mahasiswa, maupun dosen. “Inisiatif ini menjadi bukti bahwa UMM tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga mendorong implementasi di lapangan, utamanya aspek kesehatan gizi dan pendidikan,” katanya. (din/wil)